Batang Hari – Sorak bola yang memantul di lantai lapangan basket seakan membawa Bupati Batang Hari, Mhd Fadhil Arief, kembali ke masa lalu. Senyum kecil tersungging di wajahnya saat ia berdiri di hadapan para atlet, pelatih, dan tamu undangan pada pembukaan Batang Hari Super Tangguh Basket Ball Competition Tahun 2025, Senin (15/12/2025).
Dalam sambutannya, Fadhil Arief tak sekadar berbicara tentang kompetisi, prestasi, atau semangat sportivitas. Ia justru mengajak hadirin menyelami sebuah potongan kisah personal, sebuah flashback tentang olahraga basket yang menjadi saksi awal pertemuannya dengan Zulva Fadhil.
“Olahraga basket ini bukan olahraga yang asing bagi saya,” ucapnya, disambut perhatian penuh para peserta.
Ia mengenang masa-masa ketika olahraga basket bukan hanya tentang mengejar skor, tetapi juga tentang pertemuan, kebersamaan, dan kenangan yang kelak menjadi bagian penting dalam perjalanan hidupnya.
Bagi Fadhil Arief, basket adalah ruang yang menyatukan banyak hal. Semangat muda, disiplin, kerja sama, dan tanpa disangka takdir dari aktivitas olahraga sederhana itulah, perkenalannya dengan Zulva Fadhil bermula. Sebuah cerita yang kini menjadi bagian tak terpisahkan dari perjalanan hidup dan kepemimpinannya.
“Olahraga basket sejak dulu merupakan olahraga yang ramai ditonton oleh kaum perempuan, makanya saat saya bermain basket, disitulah saya bertemu Bunda Zulva, ” ujarnya dengan tawa kecil yang disambut dengan sorak para atlet dan tamu undangan yang memenuhi Gor Perbasi Batang Hari.
Nuansa bahagia dan keakraban terasa menyelimuti pembukaan turnamen tersebut. Para atlet muda yang hadir seolah mendapatkan pesan tersirat bahwa olahraga bukan hanya membentuk fisik yang tangguh, tetapi juga karakter, bahkan masa depan.
Melalui Batang Hari Super Tangguh Basket Ball Competition 2025, Fadhil Arief berharap lahir generasi muda yang tidak hanya berprestasi di lapangan, tetapi juga memiliki mental kuat, semangat juang tinggi, dan nilai-nilai kebersamaan. Seperti halnya basket yang pernah mengajarkannya banyak hal tentang perjuangan, kerja tim, dan kisah hidup yang berawal dari sebuah lapangan sederhana.
Di Batang Hari, pantulan bola basket hari itu bukan sekadar tanda dimulainya kompetisi, melainkan juga gema kenangan yang menginspirasi.
