Kalau Kartini Hidup di 2026, Apa yang Membuat Beliau Marah?

Spread the love

Oleh : Anjellie Dasviana Putri, S.T.

Batang Hari – Bayangkan kalau ibu Kartini hidup di masa sekarang. Pasti beliau akan senang sekali. Perempuan sudah bisa sekolah tinggi, jadi sarjana, magister, bahkan doktor. Perempuan sudah bebas memilih jalan hidupnya. Perempuan punya keleluasaan besar untuk tetap belajar, kerja, menikah, bahkan mereka diperbolehkan jadi pemimpin. Sekolah perempuan yang dulu Beliau rintis di Pendopo Jepara, sudah muncul lebih eksis di berbagai tempat. Tapi, di zaman yang dicap “sudah merdeka” ini, beliau akan menemukan hal-hal yang membuatnya cemberut. Apa yang membuat Ibu Kartini marah di 2026?

Hal pertama yang bikin Kartini marah di 2026 adalah umur 19 tahun sudah ditanyain “kapan nikah?”, umur 24 tahun udah didesak “kapan lagi mau nikah? Nanti kadaluarsa, masuk angin”.

Anak umur 19 itu baru mau mencari jati diri dan sedang mengupayakan pendidikan maksimal sebagai sarjana. Ijazah SMA-nya saja masih hangat sebab baru keluar dari oven. Ini masa mereka untuk fokus mengembangkan diri demi menghadapi masa depan. Padahal UU Perkawinan menetapkan umur 19 sebagai batas usia minimal menikah, bukan ‘harus’.

Umur 24 tahun belum menikah? Dianggap bertele-tele. Katanya “nanti terlalu tua, sudah tidak ada yang mau”. Ironisnya, mereka percaya Tuhan yang mengatur jodoh, tapi lihat perempuan umur 24 belum menikah malah kelojotan. Jika perempuan 19 tahun sibuk menata pendidikannya, yang umur 24 sedang sibuk menata karirnya. Langkah awal mereka tidak seharusnya dihakimi dengan kata “nanti masuk angin”. Perempuan sudah diperjuangkan. Mereka sudah punya hak untuk bebas. Kenapa diintimidasi lagi? Tidak ada istilah “kadaluarsa” untuk membangun rumah tangga. Di masa sekarang, kematangan dari segala aspek justru diperlukan untuk membangun rumah yang harmonis.

Selanjutnya, yang membuat Kartini marah di 2026 adalah…

Masih saja ditemukan komentar di sosial media yang merendahkan perempuan. Contohnya “buat apa S2? Ujungnya cuma di dapur dan ngurus anak.”

Oh, Ibu Kartini akan marah sekali jika baca komentar itu.

Mengutip dari ‘Celoteh RA Kartini : 232 Ujaran Bijak Sang Pejuang Emansipasi’ oleh Ahmad Nurcholish (2018), Kartini pernah berkata “kami di sini memohon diusahakannya pengajaran dan pendidikan anak-anak wanita, bukan sekali-kali karena kami menginginkan anak-anak wanita itu menjadi saingan laki-laki dalam hidupnya. Tapi karena kami yakin akan pengaruhnya yang besar sekali bagi kaum wanita, agar wanita lebih cakap melakukan kewajibannya yang diserahkan alam (sunnatullah) sendiri ke dalam tangannya: menjadi ibu, pendidik manusia yang pertama-tama.”

Kartini sudah menjelaskannya dengan jelas, pendidikan wanita itu penting. Wanita yang akan mendidik insan yang jernih. Beliau menyampaikan dengan terang-terangan bahwa pendidikan wanita bukan untuk menjadi saingan laki-laki. Lalu kenapa banyak laki-laki yang merasa tersaingi? Padahal, jika kalian dapat wanita yang pintar, tumbuh kembang anak kalian kelak juga akan terjamin.

Jadi, kalau Ibu Kartini hidup di 2026, beliau pasti marah. Bukan karena perempuan berdiri di dapur dan ngurus anak. Ibu Kartini tidak mempermasalahkan kodrat wanita. Beliau akan mengamuk karena beliau sudah berhasil memperjuangkan hak wanita, tapi justru masih ada yang nyinyir sembarangan. Saat ini kita bisa melakukan semuanya, jadi pintar dan jadi seorang ibu sekaligus. Tapi publik masih berpikiran kolot dan terus minta kita memilih, mau jadi pintar atau mau jadi ibu? Pendidikan bukan untuk menghilangkan status dan kodrat, pendidikan fungsinya memperkuat. Kartini jelas tidak membangun kita sebagai saingan laki-laki, beliau juga tidak membentuk wanita untuk anti menikah. Kartini hanya memupuk kita sebagai pribadi yang cerdas, pribadi yang matang untuk menyambut sebuah kehidupan baru.

Kuncinya sudah diberikan pada kita. Kita hanya perlu tentukan kunci itu akan dipakai untuk membuka masa depan dan melangkah maju, atau untuk mengurung diri dalam stigma lama yang terus berputar seperti gasing?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *