Oleh: Muhamad Aryuda Pratama
Batang Hari – Pemikiran Raden Ajeng Kartini tidak hanya menjadi tonggak sejarah emansipasi perempuan di Indonesia, tetapi juga memiliki relevansi yang kuat dalam menghadapi dinamika global saat ini. Di tengah arus globalisasi, digitalisasi, serta tantangan kesetaraan gender yang masih berlangsung, gagasan Kartini tentang pendidikan, kebebasan berpikir, dan keadilan sosial tetap menjadi pijakan penting.
Kartini memandang pendidikan sebagai kunci utama pembebasan individu, khususnya perempuan. Dalam konteks global saat ini, akses terhadap pendidikan memang semakin terbuka, namun ketimpangan masih terjadi, terutama di negara berkembang. Menurut perspektif pembangunan global, kualitas pendidikan tidak hanya berkaitan dengan akses, tetapi juga kemampuan untuk beradaptasi dengan perubahan teknologi dan ekonomi. Pemikiran Kartini menjadi relevan karena ia menekankan pendidikan sebagai alat transformasi sosial, bukan sekadar formalitas akademik.
Selain itu, isu kesetaraan gender yang diperjuangkan Kartini masih menjadi agenda global. Meskipun berbagai kebijakan internasional telah mendorong kesetaraan, realitas menunjukkan bahwa perempuan masih menghadapi diskriminasi dalam dunia kerja, politik, dan akses ekonomi. Dalam hal ini, gagasan Kartini tentang hak perempuan untuk menentukan pilihan hidupnya sejalan dengan prinsip-prinsip kesetaraan dalam agenda pembangunan berkelanjutan global. Kartini tidak hanya menuntut kesetaraan, tetapi juga mengedepankan nilai kemanusiaan dan keadilan yang universal.
Di era digital, relevansi Kartini juga terlihat dalam kebebasan berekspresi dan literasi. Kartini dikenal melalui surat-suratnya yang kritis terhadap kondisi sosial pada zamannya. Jika dikontekstualisasikan saat ini, semangat tersebut tercermin dalam pentingnya literasi digital dan kemampuan berpikir kritis di tengah banjir informasi. Tantangan global seperti disinformasi, polarisasi sosial, dan krisis identitas membutuhkan individu yang mampu berpikir reflektif sebuah nilai yang telah lama digaungkan oleh Kartini.
Lebih jauh, Kartini juga mengajarkan pentingnya identitas lokal dalam menghadapi arus globalisasi. Ia tidak menolak modernitas, tetapi menginginkan kemajuan yang tetap berakar pada nilai budaya. Dalam konteks global saat ini, hal ini menjadi sangat penting untuk menjaga keberagaman budaya di tengah homogenisasi global. Pendekatan ini sejalan dengan konsep glokalisasi, di mana nilai lokal tetap dipertahankan dalam interaksi global.
Dengan demikian, relevansi Kartini dalam kondisi global saat ini terletak pada tiga aspek utama: pendidikan sebagai alat pembebasan, kesetaraan gender sebagai prinsip universal, dan kemampuan berpikir kritis dalam menghadapi perubahan zaman. Pemikiran Kartini tidak hanya historis, tetapi juga visioner, karena mampu melampaui zamannya dan tetap kontekstual dalam menjawab tantangan global modern.
